Bangkit setelah terjatuh
Table of Contents
Matahari hampir tergantung di tengah siang namun aku belum juga beranjak untuk mandi (jadi wajar jika ada bau-bau aneh yang muncul saat membaca postinganku ini, mungkin bau badanku ikut terposting). Aku memilih untuk bertahan dulu sejenak merangkai kata, berbagi dengan siapa pun yang meluangkan waktu membaca tulisanku ini. Hari ini, aku seharusnya ada di kampus, seperti teman-temanku yang sedang berjuang mengikuti ujian meja namun kenyataan harus berkata lain. Kecelakaan lalu lintas yang menimpaku beberapa bulan yang lalu memaksaku harus pulang kampung dan beristirahat total selama 2 bulan lebih. Banyak hal yang hilang pada saat itu, mulai dari bisnis pengetikan dan pulsa yang baru saja saya rintis ditinggalkan oleh investor dan pemilik toko karena dikira menghilang tiba-tiba, baru saja dapat amanah mengajar mengaji lalu dibatalkan karena tidak pernah muncul, ditambah lagi dengan kesempatan untuk wisuda lebih awal seperti teman-temanku.
Terpuruk? Tentu saja. Aku sempat merasakan minggu-minggu terpuruk dalam hidup dimana detik demi detiknya berlalu begitu saja tanpa ada sesuatu hal berarti yang terjadi. Saat itu aku harus lebih banyak terbaring namun setiap hari keluar berobat pada beberapa orang yang diyakini "ahli urut"
Mengambil pelajaran dari kegagalan
Tak peduli seberapa besar kegagalan yang terjadi, seberapa banyak luka karena terjatuh melewati hidup. Selama nafas masih berhembus, akan ada lebih banyak alasan untuk bangkit setelah terjatuh
Aku kembali teringat pada kecelakaan yang kualami, saat itu aku sedang melaju ke sebuah kabupaten yang berjarak 90 KM. Sebuah motor tiba-tiba saja memotong jalanku dari arah kanan, aku berusaha menghindar ke kiri namun akhirnya motor yang kukendarai kehilangan kendali karena ban depannya keluar dari aspal dan melaju di pasir. Aku terjatuh, rasa perih langsung menjalar disekujur tubuh. Aku berusaha bangkit, berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak apa-apa. Beberapa warga langsung memindahkan ke lokasi yang lebih aman, diberkan minum, diberikan perahan daun-daunan di daerah yang luka untuk menghentikan pendaharana (disini saya baru sadar kalau ada luka robek di dagu), aku akhirnya dilarikan ke puskesmas dan mengalami beberapa jahitan. Disitu aku terbaring sendiri di salah satu kamar di Puskesmas sambil merenung kembali bekas suntikan yang terasa,melihat perban yang terlilit dan tangan kanan yang tidak bisa bergerak, saat itu kuingat kalau aku masih berusaha meyakinkan diri bahwa aku tidak apa-apa, masih bisa membawa motor pulang (padahal jaraknya masih puluhan kilometer).
Pada akhirnya, apa yang terjadi pada diri kita adalah sebuah ujian untuk mengetahui sudah sejauh mana diri kita berkembang menghadapi setiap situasi dan kondisi yang ada. Perlahan aku berusaha memulihkan diri dan lebih ikhlas menerima beberapa keadaan yang telat tejadi. Peristiwa itu memberikan sebuah pelajaran berharga untukku “Tak peduli seberapa besar kegagalan yang terjadi, seberapa banyak luka karena terjatuh melewati hidup. Selama nafas masih berhembus, akan ada lebih banyak alasan untuk bangkit setelah terjatuh”
Jadi apakah masih ada alasan untuk menyerah ketika setiap kegagalan itu memberikan sebuah alasan baru untuk meraih kesuksesan? Ingatlah kata-kataku kawan... Kegagalan itu adalah sebuah alasan baru untuk meraih kesuksesan.
Mungkin ini dulu tulisan sederhanaku yang berjudul “Bangkit setelah jatuh”. Semoga tulisan ini bisa memotivasi siapa pun yang membaca tulisan ini.
Makassar, 9 Juni 2012
3 Agustus 2023
Beberapa isi tulisan ini telah saya revisi pada proses pemulihan blog

Posting Komentar