Kesederhanaan Seorang Guru

Table of Contents
Malam menyambut pagi saat aku masih terjaga merangkai kata. Hal ini sebenarnya lucu bagiku karena beberapa saat yang lalu aku sempat posting tentang betapa pentingnya istirahat untuk tubuh (Baca: Yuk beristirahat). Mengawali postinganku di bulan Mei, aku membukanya dengan cerita fiksiku tentang guru. Harusnya postingan ini terbit kemarin ketika hari pendidikan tapi karena kesibukanku yang padat yang berkolaborasi dengan jaringan internet di kos-kosanku lambat akhirnya tulisan ini baru terposting sekarang, Berikut kisahnya.

Siang itu begitu terik saat aku berjalan dengan malas-malasan menuju tempat parkir sekolahku. Dengan perlahan, aku membuka gembok dan rantai yang melilit sepedaku. Aku jadi teringat kejadian yang sering terjadi ketika aku hendak mengambil sepedaku di parkiran, teman-temanku yang parkir motor di samping sepedaku kadang mengejak dan menggodaku, ada yang ingin adu balap, ada yang kadang bercanda mengatakan bahwa aku akan ditilang karena tidak pakai helm, ini semua yang membuatku terkadang malu untuk membawa sepedaku ke sekolah. Aku sudah merengek pada orang tua untuk membeli motor untukku tapi mereka tidak mengijinkan, katanya untuk apa naik motor ke sekolah padahal rumah dan sekolahku bisa dibilang lumayan dekat. Alasan mereka memang masuk akal.

Kadang jika aku merasa malu, aku memilih naik angkot ke sekolah tapi biasanya itu hanya akan berlangsung beberapa hari hingga akhirnya aku kembali mengendarai sepedaku, alasannya sangat sederhana, uang jajanku harus terkuras dengan cepat jika naik angkot setiap hari.

Siang itu nampaknya berbeda, tak ada lagi teman-temanku yang biasa menghina sepedaku itu. Aku memang sengaja pulang agak terlambat untuk menghindari mereka, kebetulan ketika hendak menuju parkiran, aku melihat ada temanku yang piket membersihkan kelas jadi aku memilih membantunya dari pada mendengarkan candaan teman-temanku yang terasa panas di telingaku.

Aku baru saja ingin mengayuh sepedaku saat sosok itu lewat di depanku, aku segera turun dari sepedaku. Namanya Pak Wahyu, tubuhnya tinggi kurus dan kulitnya agak gelap, mungkin karena setiap hari terpanggang cahaya sang surya yang menemaninya mengayuh sepedanya sepulang sekolah. Ia menghentikan sepedanya lalu menyapaku.

“Kenapa baru pulang nak?” tanyanya membuka percakapan. Aku selalu merasa bahagia karena beliau memanggil kami dengan sebuatan “nak” dan selalu menyapa atau tersenyum saat aku atau teman-teman lain berpapasan di dalam maupun di luar sekolah meskipun jabatannya sebagai seorang Kepala Sekolah.
“Tadi baru selesai piket pak” jawabku sambil tertunduk.

“Itu baru anak yang hebat. Kebersihan itu adalah sebagian dari iman nak” ucapnya memuji.

“Makasih pak untuk pujiannya pak”

“Naik sepeda juga nak? Bapak kira cuma bapak yang naik sepeda disini. Sepedanya kelihatannya hebat” ucapnya sambil menunjuk sepedaku.

“Bapak bisa saja memujinya” aku hanya tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala.

“Ia pak, aku naik sepeda ke sekolah kebetulan rumahku dekat”

“Berarti ada temannya sepeda bapak dong” candanya sambil tersenyum.

“Kalau boleh tahu, kenapa bapak tetap naik sepeda padahal bisa membeli motor atau mobil?” aku memberanikan bertanya padanya karena aku yakin, posisinya sebagai seorang  kepala sekolah sekaligus seorang guru tentunya memiliki gaji yang cukup membeli kendaraan yang kumaksud apalagi sekarang ada fasilitas kredit kepemilikan kendaraan.

Ia hanya tersenyum perlahan mendengar pertanyaanku.

“Nak, sebagai manusia, kita itu harus mampu hidup secara sederhana. Untuk apa memaksakan membeli hal yang tidak terlalu dibutuhkan jika masih memiliki sesuatu yang bermanfaat. Jika untuk ke sekolah, bapak sudah merasa cukup dengan sepeda bapak ini. Menikmati pagi dengan perjalanan santai sambil mengayuh sepeda rasanya memberikan rasa yang tak ternilai untukku. Kalau naik motor, kesannya terburu-buru, belum lagi masalah polusi yang ditimbulkannya.” ia menjelaskan dengan begitu bijaksana

‘Bapak sudah berapa lama mengendarai sepeda ke sekolah?” tanyaku lebih lanjut. Pak Wahyu tampak berpikir sejenak.

“Kira-kira... sudah 25 tahun nak. Waktu awal-awal mengajar, bapak masih jalan kaki dari rumah ke sekolah, kebetulan waktu itu masih muda jadi tenaganya masih kuat...” ia berhenti sejenak kemudian menghirup nafas dalam-dalam seakan berusaha menghadirkan kenangan masa mudanya kembali.

“... setelah menabung kurang lebih 3 bulan dari gaji bapak sebagai seorang guru, akhirnya bisa membeli sepeda ini” ucapnya sambil menunjukkan sepedanya dengan bangga.
“Jadi sepeda ini sudah 25 tahun yah pak?” tanyaku takjub. Aku tak menyangka kalau sepeda yang masih sangat terawat itu ternyata telah menemani perjalanan Pak Wahyu sebagai seorang guru. Pasti sepeda itu sangat berharga untuk Pak Wahyu.

“Kurang lebih seperti itu nak. Sekarang pulang dulu nak, nanti orang tuanya kawatir di rumah loh”

Setelah itu kami mengayuh sepeda bersama menelusuri jalan sebelum akhirnya berpisah disebuah persimpangan. Sambil mengayuh sepedaku, aku merenungi kata-kata Pak Wahyu. Aku akhirnya merasa malu pada diriku sendiri, kenapa aku tak seperti Pak Wahyu. Meskipun ia seorang kepala sekolah tapi ia tak pernah malu untuk mengendarai sepeda meskipun guru-guru lain ada yang mengendarai sepeda motor bahkan mobil pribadi. Ia tetap bertahan dengan kesederhanaan dan sebuah senyuman yang tak akan pernah terlupakan.

Sejak hari itu, aku tak pernah lagi merasa malu mengendarai sepedaku ke sekolah bahkan kadang aku merasa bangga ketika di jalan berpapasan dengan Pak Wahyu dan kami berangkat beriringan menuju sekolah. Sosok inilah yang mengajariku betapa besarnya arti dari kesederhanaan itu.

Terima kasih guruku... atas semua ilmu yang telah kalian berikan padaku selama ini. Di hari ini, dimana rakyat Indonesia memperingatinya sebagai hari pendidikan, aku ingin mengungkapkan betapa bangganya diriku pada kalian.
Demikian tulisan sederhanaku tentang Kesederhanaan Seorang Guru, semoga tulisan ini bermanfaat.

Posting Komentar